Pemandangan kecil yang
selalu aku lihat. Rintikan hujan yang menempel di jendela kamar. Setiap
tetesnya menyatu satu sama lain seperti membentuk sebuah kelompok. Namun
kemudian mereka akan mudah hilang bila terkena tetesan lainnya. Terus menerus
seperti itu hingga tak ada lagi tetesan air yang menempel di jendela kamar.
Secepat itu mereka pergi tanpa jejak. Karena mereka hanya rintikan air hujan
yang selalu menghiasi jendela kamarku. Mereka hanya ada ketika hujan, itulah
mengapa mereka patut dirindukan.
Sesudah hujan, aku
hanya melihat sisa-sisa dari mereka yang menempel di dedaunan. Mereka seolah mencoba bertahan walau akhirnya
pasti akan terjatuh juga. Sebagian lagi masih ada yang tergenang di tanah.
Mereka bisu dan diam, hanya menunggu tanah-tanah merah menyerap mereka perlahan
demi perlahan. Perlu diingat, mereka hanya rintikan air hujan. Yang dengan
pasrahnya jatuh dari awan-awan mendung, mereka tak peduli seperti apa dasar
yang akan mereka injak. Mereka mengalir, mereka mengikuti, kemanapun arah yang
membawa mereka pergi. Tanpa pernah mencoba melawan arus. Perlu ditegaskan lagi,
karena mereka hanyalah rintikan air hujan yang pasrah.
Mereka tak pernah
mempersalahkan takdir yang membuat mereka menjadi sekedar rintikan air hujan.
Yang hidupnya begitu singkat. Yang kadang dibenci oleh orang-orang; dan juga
disenangi oleh orang-orang. Mereka bisa saja membawa petaka, tapi bisa juga
membawa anugrah. Apapun yang orang lain jadikan patokan, adalah nilai yang
berarti bagi mereka. Semua tergantung pernilaian orang-orang yang beranggapan
macam-macam tentang mereka. Bahkan pohon-pun tak pernah mempersalahkan rintikan
air hujan yang membuatnya basah. Lalu mengapa manusia mempersalahkan mereka
yang bisa membuat petaka di bumi? Banjir misalnya. Jangan salahkan mereka!
Perlu digaris bawahi, mereka hanya rintikan air hujan yang bisu. Manusia hanya
perlu berintrospeksi, bagaimana bisa mereka kembali lagi menjadi hujan, jika
tanah yang merupakan sumber serapan tempat mereka kembali sudah tak ada lagi di
bumi? Mereka hanya akan menjadi hal yang jahat jika kita biarkan terus seperti
ini. Mereka hanya akan menjadi momok menakutkan jika kita biarkan mereka tak
kembali lagi ke tanah. Ingatlah! Mereka mengikuti semua arah pijakan tempat mereka
jatuh dari awan.
Aku rindu! Aku rindu
rintikan hujan di jendela kamar. Mereka tampak begitu indah seperti menyatu
dengan harmoni alam. Kembalikan mereka seperti dulu! Damai tentram menjalani
hidupnya yang singkat. Jangan jadikan mereka sebagai cambukan bagi masyarakat,
menjadi sesosok monster yang seakan-akan bisa menghancurkan semuanya. Sudah
berapa kali aku bilang, mereka hanya rintikan air hujan. Semuanya kembali lagi
ke diri kita sendiri, akan menjadi hal apakah rintikan air hujan itu. Biarkan mereka
mengalir ke tempat yang seharusnya mereka kembali, ke tempat yang sudah
ditakdirkan oleh hukum alam. Janganlah mengganggu siklus kehidupan mereka yang
singkat! Ketahuilah, apapun yang dipijak, itulah yang akan membawa mereka
pergi. Kembalikan pijakan mereka! Pijakan tanah-tanah subur yang menjadi tujuan
mereka seharusnya. Bukan jalanan aspal yang keras dan meracuni mereka.
Aku pasti akan
merindukan hal itu, ketika mereka membuat sebuah kelompok kecil di jendela
kamarku, berbaris dengan rapih kemudian terjatuh. Kemudian menempel di dedaunan
yang membuatnya subur. Menjadi sebuah hal yang lebih berguna. Sederhana sekali,
berawal dari rintikan air hujan di jendela kamar, kini setidaknya mereka bisa
lebih dipedulikan.
Dibuat 25 Desember 2012
14.48
Ketika air hujan membasahi kota
cirebon
0 komentar:
Posting Komentar