Selasa, 25 Desember 2012

Rintikan Hujan di Jendela Kamar


Pemandangan kecil yang selalu aku lihat. Rintikan hujan yang menempel di jendela kamar. Setiap tetesnya menyatu satu sama lain seperti membentuk sebuah kelompok. Namun kemudian mereka akan mudah hilang bila terkena tetesan lainnya. Terus menerus seperti itu hingga tak ada lagi tetesan air yang menempel di jendela kamar. Secepat itu mereka pergi tanpa jejak. Karena mereka hanya rintikan air hujan yang selalu menghiasi jendela kamarku. Mereka hanya ada ketika hujan, itulah mengapa mereka patut dirindukan.

Sesudah hujan, aku hanya melihat sisa-sisa dari mereka yang menempel di dedaunan.  Mereka seolah mencoba bertahan walau akhirnya pasti akan terjatuh juga. Sebagian lagi masih ada yang tergenang di tanah. Mereka bisu dan diam, hanya menunggu tanah-tanah merah menyerap mereka perlahan demi perlahan. Perlu diingat, mereka hanya rintikan air hujan. Yang dengan pasrahnya jatuh dari awan-awan mendung, mereka tak peduli seperti apa dasar yang akan mereka injak. Mereka mengalir, mereka mengikuti, kemanapun arah yang membawa mereka pergi. Tanpa pernah mencoba melawan arus. Perlu ditegaskan lagi, karena mereka hanyalah rintikan air hujan yang pasrah.

Mereka tak pernah mempersalahkan takdir yang membuat mereka menjadi sekedar rintikan air hujan. Yang hidupnya begitu singkat. Yang kadang dibenci oleh orang-orang; dan juga disenangi oleh orang-orang. Mereka bisa saja membawa petaka, tapi bisa juga membawa anugrah. Apapun yang orang lain jadikan patokan, adalah nilai yang berarti bagi mereka. Semua tergantung pernilaian orang-orang yang beranggapan macam-macam tentang mereka. Bahkan pohon-pun tak pernah mempersalahkan rintikan air hujan yang membuatnya basah. Lalu mengapa manusia mempersalahkan mereka yang bisa membuat petaka di bumi? Banjir misalnya. Jangan salahkan mereka! Perlu digaris bawahi, mereka hanya rintikan air hujan yang bisu. Manusia hanya perlu berintrospeksi, bagaimana bisa mereka kembali lagi menjadi hujan, jika tanah yang merupakan sumber serapan tempat mereka kembali sudah tak ada lagi di bumi? Mereka hanya akan menjadi hal yang jahat jika kita biarkan terus seperti ini. Mereka hanya akan menjadi momok menakutkan jika kita biarkan mereka tak kembali lagi ke tanah. Ingatlah! Mereka mengikuti semua arah pijakan tempat mereka jatuh dari awan.

Aku rindu! Aku rindu rintikan hujan di jendela kamar. Mereka tampak begitu indah seperti menyatu dengan harmoni alam. Kembalikan mereka seperti dulu! Damai tentram menjalani hidupnya yang singkat. Jangan jadikan mereka sebagai cambukan bagi masyarakat, menjadi sesosok monster yang seakan-akan bisa menghancurkan semuanya. Sudah berapa kali aku bilang, mereka hanya rintikan air hujan. Semuanya kembali lagi ke diri kita sendiri, akan menjadi hal apakah rintikan air hujan itu. Biarkan mereka mengalir ke tempat yang seharusnya mereka kembali, ke tempat yang sudah ditakdirkan oleh hukum alam. Janganlah mengganggu siklus kehidupan mereka yang singkat! Ketahuilah, apapun yang dipijak, itulah yang akan membawa mereka pergi. Kembalikan pijakan mereka! Pijakan tanah-tanah subur yang menjadi tujuan mereka seharusnya. Bukan jalanan aspal yang keras dan meracuni mereka.

Aku pasti akan merindukan hal itu, ketika mereka membuat sebuah kelompok kecil di jendela kamarku, berbaris dengan rapih kemudian terjatuh. Kemudian menempel di dedaunan yang membuatnya subur. Menjadi sebuah hal yang lebih berguna. Sederhana sekali, berawal dari rintikan air hujan di jendela kamar, kini setidaknya mereka bisa lebih dipedulikan.

Dibuat 25 Desember 2012
14.48
Ketika air hujan membasahi kota cirebon

Related Posts:

  • Merindukanmu Malam Ini malam ini, rindu datang menyapa. entah dari mana asalnya dan sebab apa ia pulang berkelana dan mecatut nama tepat di kepala yang seharusnya bukan kau juga bukan siapa-siapa rindu adalah pedang bermata dua dan p… Read More
  • Kepada Kamu yang Berikutnya Mungkin kamu sedang menerka-nerka esok hari akan kau jatuhkan hatimu dengan pasrah pada sesiapa. Sebab kamu tak pernah tahu kapan semesta membuka kotak kejutan yang berisi jawaban dari rahasia waktu. Perihal har… Read More
  • Akan Ada Hari Akan ada hari, saat kenanganmu datang mengetuk pintu di pikiran. Bahkan gravitasi tidak akan menjaga matamu dari air mata yang jatuh, bahkan dunia akan berputar sedikit lebih cepat dengan sedikit lebih banyak kesedihan,… Read More
  • Hanya Sebuah Tulisan Layaknya sungai, hidup terus mengalir. Namun entah kapan akan sampai ke hilir. Layaknya angin, rasa sakit kadang datang, lalu tertiup. Namun entah bagaimana luka akan tertutup. Layaknya senja, kamu begitu indah, hingga mem… Read More
  • Seharusnya Kita Aku masih saja menyusuri jalan-jalan yang sungguh masih sama hanya keadaannya saja yang berbeda. Kaki kita pernah meninggalkan debu bekas langkah yang beriringan walau ruang dan waktu telah memandu kau… Read More

0 komentar:

Posting Komentar