"Kamu punya hati ga sih? Selalu aja ga pernah
ngerti! Waktu kamu cuma sama temen lagi temen lagi. Kapan punya waktu buat aku?
Kamu ga pernah anggap aku ada! Apa aku udah ga cukup berharga lagi di mata
kamu?", dengan lancang aku
berteriak di depan wajahnya. Di malam yang dingin, di persimpangan jalan dekat
rumahku. "Justru kamu yang ga pernah
ngerti! Aku butuh waktu. Kamu memang pacar aku, tapi pacaran bukan berarti
harus selalu berdua kan? Aku bukan robot yang bisa seenaknya kamu atur!! Aku ga
seperti laki-laki bodoh lainnya yang dengan mudah kamu atur", dia-pun
membantah omonganku kali ini, dia tampak begitu emosi, baru kali ini aku
melihat wajahnya dengan sorot mata yang berbeda. Aku terus mengatakan apa yang selama ini menjadi ganjalan di hati, "Tapi harusnya kamu bisa lebih
peduli! Bukannya malah...",
"Sudah! Aku lelah!" Dia memotong kata-kataku. "Aku sudah paham dengan sikapmu yang
egois. Pernahkah kamu sadar, aku melakukan segalanya dengan ikhlas, tapi selalu
saja terlihat kurang di matamu. Apapun yang aku lakukan selalu dianggap salah
bagimu. Kamu seolah membunuhku secara perlahan. Teruslah menuntutku! Hingga aku
tak bisa berbuat apa-apa lagi!", aku hanya bisa menundukan kepala,
terdiam bisu, lidahku kelu, aku takut mengatakan hal yang salah lagi, aku
mengerti mungkin kali aku salah. Tanpa terasa air mata yang sedari tadi ku
bendung akhirnya menetes. Hatiku seolah dicambuk oleh kerasnya kata-katanya.
Mungkin inilah puncak emosinya, puncak dari segala yang dia pendam dariku.
Aku berlari,
menjauhinya, aku tak ingin dia melihat air mata ini terjatuh. Dengan harap
cemas aku terus berlari tak tentu arah, tapi nyatanya dia tidak mengejarku, dia
membiarkanku berlari sendirian, dia tidak memanggil namaku, di malam yang dingin tanpa sedikitpun kehangatan.
Terdengar bisik-bisik suara angin yang menyentuh lembut melewati telingaku. Aku
masih tetap diam, masih dengan penuh harapan, masih dengan mata berbinar-binar,
menunggu dia yang mungkin saja masih mencariku. Aku menunggunya semalaman
suntuk, namun ternyata dia hilang, dia tidak datang padaku, dia tidak
mencariku. Mungkin di malam itu, adalah terakhir kalinya aku bisa melihat
wajahnya, aku bisa berbicara padanya, walaupun itu sebuah pertengkaran. Air
mataku pun berderai membasahi pipi, namun kali ini ada yang berbeda, air mata
yang lebih dingin dari sebelumnya, air mata tanda kehilangan. Entah mengapa aku
merasa seperti orang yang sangat bodoh, melepaskan cinta yang nyatanya tulus,
meninggalkan kasih sayang yang nyatanya tanpa pamrih. Badanku lemas, air mataku
tak berhenti menetes, mungkin saat ini aku sedang berada pada sempitnya jalan
penyesalan.
Sudah cukup lama, aku
tak mendengar kabarnya. Sepertinya kali ini aku dan dia benar-benar berpisah.
Aku hanya memejamkan mata, otakku yang terus menerus berimajinasi, mencoba
menganggap semuanya baik – baik saja, mencoba berekspetasi jika dia pasti akan
kembali. Tapi ketika aku membuka mata, tetap tak ada dia. Tak ada sorot mata
teduhnya, tak ada lekukan manis senyumnya, tak ada barisan behel yang menghiasi
giginya. Apa kali ini aku masih salah lagi ? Rasanya ingin sekali aku memutar
waktu. Memperbaiki semua kesalahan yang menjadi penyebab sebuah perpisahan ini.
Entahlah, apa aku bisa berhenti membasahi bantal tidurku dengan air mata
sebelum aku tidur ? apa aku bisa berhenti terbangun dengan mata yang sembab ?
apa aku bisa berhenti menyakiti diri sendiri ? Aku hampa! Aku tak berdaya! Aku
seolah kehilangan semangat, kehilangan arah tujuan hidup.
Aku memandangi
langit-langit kamar. Aku mencoba melupakan, tapi begitu sulit! Kenangan demi
kenangan sudah terpatri kuat di otakku. Kenangan yang seakan-akan dia buat agar
tidak mudah dilupakan. Rasanya sangat mustahil bisa benar-benar melupakannya.
Hampir tak ada celah di hatiku yang tidak dipenuhi oleh dia. Aku masih ingat
persis semua rencana-rencana kita, rencana menjalani hidup berdua, menjalani
masa depan berdua, dan berjuang bersama-sama berdua. Namun nyatanya, kini semua
mimpi itu hanya akan tetap menjadi mimpi yang takkan pernah terwujud. Hanya sebuah
dongeng sebelum tidur yang diceritakan agar tidurku nyenyak. Sudahlah! Rasanya beratus-ratus
haripun takkan cukup untuk mengenang kejadian demi kejadian yang dilalui
bersama dengannya.
Belum begitu sembuh
luka di hatiku. Tiba-tiba mata ini nanar, hati ini begitu sakit, aku melihat
dia lagi! Ya.. Aku melihat dia lagi setelah sekian lama aku berhibernasi
darinya. Namun kali ini ada yang berbeda, selain wajahnya yang terlihat lebih
tampan, kini dia menggenggam tangan seorang wanita. Benarkah? Apa aku hanya
berhalusinasi? Aku mencoba meyakinkan diri. Di antara kerumunan orang banyak,
aku mencoba mencari-cari dia yang sempat ku lihat, memastikan pandangan yang
sempat tersirat. Ternyata benar! Dia menggenggam tangan seorang wanita, yang
mungkin kekasih barunya. Mereka terlihat sangat akrab, bercanda tawa bersama, dan
bersenang-senang bersama, seperti aku dengannya dulu. Aku melihat senyumannya
lagi, senyumannya yang menawan, yang dulu selalu bisa mencairkan hatiku yang
beku. Namun kali ini senyumnya lebih berbinar-binar, lebih terukir dengan
indah, seperti tidak ada beban yang disembunyikan. Mungkin sekarang dia telah menemukan
orang yang tepat baginya, orang yang benar-benar bisa memahami jalan pikirannya.
Dia telah menemukan orang yang menggantikan kewajibanku dulu. Kembali lagi
padaku, mungkin hal itu tak pernah tersirat lagi di pikirannya.
Seketika aku tak bisa
berbuat apa-apa, seperti ada yang tertancap kuat di hatiku, aku tuli, aku bisu!
Di antara kerumunan orang banyak aku masih merasa sepi. Ingin rasanya aku
berteriak keras di depan wajahnya, meluapkan segala yang ada di hatiku, namun
sekarang sudah tidak mungkin lagi. Ketahuilah, Aku akan terus menerus berusaha
ikhlas, menahan air mata yang takkan lagi aku teteskan untuknya. Setidaknya aku
sudah bisa melihat dia tersenyum, walaupun bukan karena aku. Mungkin tanpa aku,
dia akan lebih bisa bahagia.
Kini aku sadar, cinta
yang selama ini membuai hatiku, cinta yang selalu bisa menerbangkan angan –
anganku, tak cukup kuat untuk membuatnya bahagia. Dia adalah sesuatu yang
selalu ku tulis, namun aku adalah sesuatu yang tak pernah dia baca. Ketika aku
kembali ke persimpangan jalan dekat rumah, sebuah kenangan yang masih terselip
secara tak disengaja teringat kembali. Andai dulu aku tidak berlari meninggalkannya,
mungkin sekarang genggaman tanganku lah yang masih menghangatkan tangannya.
Dibuat 26 Desember 2012
01.06
0 komentar:
Posting Komentar