Hanya Sebuah Tulisan
Layaknya sungai, hidup terus mengalir. Namun entah kapan akan sampai ke hilir.
Layaknya angin, rasa sakit kadang datang, lalu tertiup. Namun entah bagaimana luka akan tertutup.
Layaknya senja, kamu begitu indah, hingga membuat hatiku tergugah. Namun entah kapan kamu akan singgah.
Aku sempat berharap pada bulan, untuk menerangiku dikala malam. Namun aku dikhianati oleh gerhana.
Lalu aku meminta pada matahari, untuk tetap hangat di siang hari. Namun ia tak mau berhenti, membakar peluh di lubuk hati.
Terakhir kali, aku berbincang dengan langit, agar ia cerah di esok hari. Namun lagi, harapan ditebas mati oleh awan mendung.
Hingga pada akhirnya aku tak ingin lagi, sedikitpun menaruh harapan, pada semua yang ku anggap akan memberi kebahagiaan. Karena memang pada akhirnya, aku tak mendapatkan apa-apa selain kekecewaan.
Aku telah melewati, jalan yang berliku, tebing yang curam, palung yang dalam. Namun hal yang paling aku takuti, kamu yang hilang di hari yang kelam.
Seperti ada anak panah yang tertancap di dada, hatiku mati suri. Dan entah kapan akan hidup lagi.
Lalu aku menjadi buta, pada ketulusan yang orang lain beri. Ku anggap mereka bermuka dua, senyuman adalah topengnya.
Aku terus menyusuri luka hati, entah apa yang ku cari. Karena tak ada yang lain selain namamu yang telah terpatri.
Hingga aku lupa, untuk menyembuhkan luka aku harus berhenti menyentuhnya.
Memang, mengingatmu adalah cara agar aku tak lupa bagaimana rasanya bahagia. Dan bagaimana seseorang yang memberikan kebahagiaan terbesar, adalah orang yang sama yang akan memberikan kesedihan di luar nalar.
Kini aku telah berhenti.
Berkatmu, aku tak tahu bagaimana cara membuka hati. Semua tampak semu, palsu, dan rancu.
Yang ku ingat hanya senyum menawan, dan sorot mata teduhmu. Yang tetap hangat meski hanya di angan, hingga menjadi candu.
Satu hari, aku merasakan segalanya.
Hari lain, aku tak merasakan apapun.
Aku tak tahu mana yang lebih buruk, tenggelam dibawa ombak, atau mati karena kehausan.
0 komentar:
Posting Komentar